Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Scary Scene

Jean berjingkat kaget. Tak sengaja tangannya menyenggol cangkir kopi hingga terjatuh dan pecah. Jean terpekik tertahan. Tumpahan kopi dan serpihan cangkir tersebar ke seluruh ruangan. Jean menghela napas panjang dan mengatur detak jantungnya. Dering telepon seluler ini harus segera diganti yang lebih soft. Jean membaca pesan singkat dari suaminya. "Sorry honey, aku lembur lagi. Mungkin hingga lewat tengah malam." Rasa keberatan hanya bisa dipendamnya dalam hati. Muncul keinginan untuk protes, namun diurungkannya. Ditengadahkannya kepala ke arah jam di dinding. Jarum pendek hampir mendekati angka sebelas. Entah kenapa malam ini terasa mencekam. Suara desir angin dan temaramnya cahaya bulan membuatnya bergidik. Jean beranjak ke dapur, mengambil lap, sapu dan pengki. Tangannya mengayun seirama dengan suara detak jarum jam dinding. Serpihan cangkir dipastikannya sudah berada di dalam pengki. Jean berjongkok, meneliti setiap inci lantai. Bersih sudah. Tak ada s...

A Cup of Betrayal

Secangkir teh hangat kuletakkan di meja di sampingnya. Kepulan asap membumbung ke udara. Hening. Suara rintik hujan terdengar merdu di telinga. "Laper?" tanyaku. Dia, lelaki bermata coklat itu, mengeleng. Tak bersuara, hanya senyum manis terlukis di wajahnya. "Sini," panggilnya lirih. "Sudah duduk aja di sini. Kita nikmati malam dan hujan." Dia duduk dengan kaki ditekuk dan tangan melingkari lututnya. Aku duduk di depannya. Kudorong tubuhku ke belakang mendekatinya. Kutelusupkan kepalaku ke dalam pelukannya. Hangat. Kupalingkan wajah kearahnya. "Dulu kamu paling sebel sama hujan. Selalu menggerutu tiap kali hujan turun." Aku tersenyum mengenang masa lalu kami. "He em. Hujan memang bikin banyak rencana berantakan." Bibirnya mengerucut membuat wajahnya terlihat lucu. "Jadi inget pas kita dinner anniversary, kamu bahkan hampir banting meja. Tapi malah kita having so much fun that night." Aku terkenang kejadian ...

Letting You Go

Aku berdiri, kulongok lampu indikator di atas pintu. Hanya warna merah yang terlihat. Lorong sepanjang hampir lima puluh meter di depanku terasa lorong neraka. Walau sudah kubaca berulang kali, tetap saja mataku reflek menangkap tulisan ber- font besar berwarna merah. RUANG OPERASI. Kulirik jam di pergelangan tangan kiriku. Sudah tiga jam lebih aku berdiri, duduk, mondar mandir, berdiri lagi, duduk lagi, mondar mandir lagi. Laki-laki yang telah menjadi imamku lebih dari sepuluh tahun sedang bertarung dengan pisau bedah dan dokter di dalam sana. Telah banyak doa dan permohonan kupanjatkan. Sebuah tepukan menyadarkanku dari lamunan. "Keluarga Bapak Wirawan?" suara suster lembut. "Iya, Sus," jawabku. "Ibu ditunggu di ruang dokter Adi. Ada hal yang akan disampaikan. Pasien masih dalam persiapan untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Jadi belum bisa dijenguk ya, Bu." Suster tersenyum. "Iya, Terima kasih." Aku balas tersenyum. Sust...

Burung Kusayang, Uangku Terbang

Pak Wiro menghela napas panjang. Tangannya menengadah ke atas. Bibirnya komat kamit merapal doa. Sesaat kemudian dia menyapukan kedua tangan ke wajahnya. Pak Wiro berjalan ke ruang tengah. Ke tempat istrinya sedang duduk menyelesaikan rajutan. "Bu, capek ya. Aku pijitin, ya," suara Pak Wiro terdengar syahdu. "Hm." Bu Wiro hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Pak Wiro, masih asyik dengan rajutannya. Dia membetulkan kacamata yang mlorot. Pak Wiro meletakkan kursi di samping kursi goyang istrinya. Dia memijit lembut tungkai istrinya. "Mau apa lagi? Nggak usah sok baik-baik begitu!" Bu Wiro berkata dengan ketus. "Pokoknya nggak ada beli burung-burung lagi. Sudah tua malah aneh-aneh!" Mata Bu Wiro hampir meloncat keluar. "Ish, suami baik gini, mau nyayang-nyayang, kok malah dicurigai macem-macem to Bu." suara Pak Wiro memelas. "Aku kemarin lewat toko baru deket pasar burung, toko i..." "Nah kan, ketahuan m...

The Game is Over

"Re, aku tak sanggup lagi melanjutkan. Kita sudahi semua." Sherly memejamkan mata. Dia menghela napas panjang. Bibirnya bergetar. "Apa maksudmu!" Reno tersentak. Dia terduduk. Selimut yang menutupi sebagian pangkal pahanya tersingkap. "Aku tersiksa. Setiap kali harus berbohong." Hening. Sherly terisak. "Aku tak sanggup menyembunyikan semua lebih lama lagi!" lanjutnya. Wajahnya kuyub. Sherly membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal. Reno mengacak-acak rambutnya. Hatinya teriris. "Aku mencintaimu, Hon!" sahutnya. "Aku tak bisa kehilangan kamu!" Reno kembali berbaring dan memeluk tubuh mungil Sherly. Reno menciumi punggung, pundak, hingga leher Sherly. Sherly merasakan sensasi menggelitik di perutnya. Reno tahu betul spot yang bisa membawanya ke nirwana. Bibir lembut Reno menyapu hampir seluruh bagian belakang tubuhnya. Sherly terlena. Dia berbalik, direngkuhnya badan berotot pujaannya. Bibir Reno kembali men...

Pengganti Bapak

Rahma memejamkan mata, menahan napas, dan bergeming di samping Bagas. Beberapa menit kemudian terdengar saklar lampu dipencet, ruangan gelap. Disusul suara derit engsel dan pintu tertutup. Rahma membuka mata. Temaram lampu dari ventilasi menerangi kamar. Dia menghela napas panjang. Sudah hampir sebulan, dia tidur di kamar Bagas. Anak manis inilah, satu-satunya penghibur hati. Belum sirna kesedihannya, kehilangan Bapak. Rahma sudah harus menahan perih karena hatinya patah. Air matanya kembali mengalir. Tangisan tanpa suara. * "Mama Rahma, maemnya udah ya, Bagas takut telat." Mulut mungil itu bersuara. "Maemnya dihabiskan dulu. Nanti berangkat bareng mama, nggak akan telat." Senyum menghiasi wajah manis Rahma. "Hm, bilang aja Bagas nggak mau berangkat sama Ayah." Sigit menyahut. Mulutnya mengerucut, membentuk piramida kecil. "Sejak ada Mama Rahma, Bagas nggak sayang Ayah lagi." Bibir Sigit melengkung ke bawah. Lucu. Bagas terke...